RM.Torani-Balikpapan

Minggu, 04 Juli 2010

Bekerjalah Dengan Hati

(managementfile – HR) - Saat masih kanak-kanak, nasehat kaum orang tua mengajarkan agar kita kelak sukses maka kita harus kerja keras (hardwork). Pernyataan berbeda diungkapkan oleh para pakar, yaitu kerja keras saja (hardwork) saja tidak cukup tapi juga dibutuhkan heartwork (bekerja dengan hati) untuk mencapai keberhasilan.

Saat memutuskan untuk bekerja, kita harus memiliki modal seperti kita menginvestasikan ’harta’ kita agar suatu hari kelak dapat kita petik hasilnya. Modal itu adalah pikiran (non fisik), tenaga (fisik) dan hati (non fisik). Antara pikiran dan tenaga, ada perbandingan ang berbeda untuk setiap pekerjaan. Namun untuk hati, modal ini diperlukan dalam setiap pekerjaan. Anda mungkin pernah dengar sebelumnya bahwa saat kita bekerja dengan sepenuh hati kita, maka seberat apapun pekerjaan itu kita tidak terlalu berat merasakannya. Ini salah satu bentuk kecerdasan membuat strategi sehingga pekerjaan sukses tercapai secara optimal.

Anda tahu orang-orang Jepang memiliki komitmen yaitu bekerja dengan sepenuh hati. Hal ini ditunjukkan dengan tata bahasa dan nada bicara yang halus dan ramah serta yang tidak ketinggalan adalah senyum yang menyiratkan ketulusan mereka dalam menyelesaikan setiap tugas dan tanggung jawabnya. Mereka tahu bagaimana cara memberikan pelayanan yang terbaik bagi seorang pelanggan bahkan mereka juga tahu bagaimana harus menegur tanpa harus bersikap kasar dan mempermalukan orang tersebut. Mereka adalah orang yang senantiasa berusaha belajar untuk mencintai profesi mereka sehingga apapun pekerjaan yang mereka tekuni semuanya mereka lakukan dengan keikhlasan.

Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh banyak orang yang bekerja di Amerika. Mereka terbiasa bekerja dalam gerak cepat tapi seringkali disertai dengan sikap keangkuhan dan tidak dibarengi dengan senyum yang menandakan satu komitmen akan melayani dengan sepenuh hati. Motto melayani dengan senyum masih belum menjadi satu habit. Memang mereka semua adalah pekerja keras tapi bekerja tanpa hati, tanpa merasa perlu menjalin relationship dengan customer sehingga merasa tidak perlu ada senyum dan perhatian, selain berusaha untuk memenuhi tugas dan tanggung jawabnya.

Sekarang menurut Anda, bagaimana dengan orang Indonesia ? masih banyak yang bekerja tanpa disertai dengan keiklasan. Kita masih perlu belajar dari sikap orang jepang yang notabene kita tahu mereka tinggal di negara maju dan sukses karena mereka tidak pernah meninggalkan budaya bagaimana melayani dengan hati yang tulus.

Berikut sedikit cuplikan cerita yang mungkin pernah kita dengar sebelumnya :
Seorang pembantu rumah tangga yang berwajah lugu, sederhana, dan tutur kata yang simpatik. Sang majikan terkesan dan percaya, tidak lama sang pembantu diterima menjadi pembantu rumah tangga. Tiga bulan kemudian, sang pembantu kabur dengan sudah menguras semua harta majikannya. Ternyata pembantu ini adalah anggota sindikat perampok yang beraksi dengan modus berpura-pura menjadi pembantu. Lebih tepatnya dia layak dijuluki berwajah tulus, namun berhati bulus.

Seorang caleg mengamuk karena gagal dalam pemilihan wakil rakyat karena merasa sudah banyak ’biaya’ yang dia harus keluarkan. Modal yang salah ditempatkan dan sikap hati yang salah, bekerja dengan penuh keikhlasan dan sepenuh hati. Juga seorang caleg lainnya yang mau memalsukan identitasnya dengan berbagai macam gelar demi lolos jadi caleg semakin membuat kita melihat bahwa menjadi seorang wakil rakyat bukan semata menerima materi tapi juga mau mencintai pekerjaan untuk melayani rakyat dengan sepenuh hati.

Suatu malam ada seorang pria tua istrinya memasuki sebuah lobi hotel kecil di Philadelphia.
"Semua hotel besar di kota ini telah terisi, bisakah kau memberi kami satu kamar saja?" kata pria tua itu. Pegawai hotel menjawab "Semua kamar telah penuh karena ada 3 event besar yang bersamaan diadakan di kota ini, tapi saya tidak bisa menyuruh pasangan yang baik seperti Anda untuk berhujan2 di luar sana pada pukul satu dini hari seperti ini, Bersediakah anda berdua tidur di kamar saya?. "Keesokan harinya pada saat membayar tagihan, pria tua itu berkata pada si pegawai hotel "Kamulah orang yang seharusnya menjadi bos sebuah hotel terbaik di USA, karena kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani, mungkin suatu hari saya membangunkan sebuah hotel untukmu". Pegawai hotel itu hanya tersenyum lebar melupakan kata2 pria tua itu, karena dia pikir dirinya hanya seorang pegawai biasa. Kira2 dua tahun kemudian, ia menerima surat yang berisi tiket ke New York permintaan agar ia menjadi tamu pasangan tua tsb. Setelah berada di New York, pria tua mengajak si pegawai hotel itu ke sudut jalan antara Fifth Avenue Thirty-Fourth Street, dimana ia menunjuk sebuah bangunan baru yg luar biasa megah dan mengatakan "Itulah hotel yang saya bangun untuk kamu kelola". Pegawai hotel itu adalah George Charles Boldt, yang menerima tawaran William Waldorf Astor, si pria tua itu, menjadi pimpinan dari hotel Waldorf-Astoria, yg menjadi hotel terbaik di dunia.

Pada akhirnya, sikap kita dalam bekerja sangat menentukan keberhasilan dan kesuksesan kita. Jika hanya sekedar mengejar materi, maka karier/hasil yang kita peroleh biasa2 saja atau bahkan bisa gagal sama sekali pada saat kita salah jalan. Kita sudah mendengar bahwa jika kita mau bekerja dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas mau melayani orang lain. Dengan pekerjaan yang kita miliki, maka kita bisa menjadi berkat buat orang lain, bukankah hal ini menyenangkan ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar